OK BUNGA MAWAR Srimulat



OK BUNGA MAWAR, di grup ini terdapat Gesang, Hendroyadi, Hardiman dan Ndoro Griwo. Orkes ini sering pentas ke berbagai kota di Jawa Tengah dan lagu-lagunya disiarkan RRI Solo.


Dalam pementasan Orkes Keroncong Bunga Mawar di Purwodadi, Teguh berjumpa dengan Raden Ayu Srimulat. Inilah titik awal kebersamaan mereka di rombongan Orkes Bintang Timur pimpinan Djamaluddin Malik serta dalam Orkes Keroncong Bintang Tionghwa yang dipimpin oleh Kho Tjay Yan. Tahun 1949, R.A. Srimulat mendirikan Orkes Keroncong Avond dengan Teguh sebagai pendukung utama. Setahun kemudian, tanggal 8 Agustus 1950, mereka menikah dan mendirikan Gema Malam Srimulat. Teguh sendiri menjadi pimpinan Srimulat sejak 1957 hingga 1985. Teguh menikah lagi dengan Jujuk Juariah, primadona kelompok Srimulat, pada tahun 1970, 2 tahun setelah RA Srimulat meninggal. Teguh meninggal dunia pada tanggal 22 September 1996.

S. PADIMIN



S. PADIMIN adalah pimpinan di Orkes Keroncong Cendrawasih, S. Padimin menulis dan mengkomposisi lagu-lagu ciptaannya. Memang popularitasnya tidak setenar Gesang, Ismail Marzuki, atau Kusbini yang karyanya banyak dimainkan hingga saat ini.  Tak ada data informasi lengkap tentang tokoh ini selain pencantuman namanya di beberapa lagu keroncong yang ia ciptakan. Dalam kaset album “Keroncong & Stambul Old Favourites Vol. 1” yang dirilis Lokananta Records, S. Padimin menggaet beberapa penyanyi wanita untuk menyanyikan karyanya antara lain Suciati, Sutarsih, Hetty, Kustiyati, dan beberapa penyanyi lelaki yaitu S. Akhiyat, AM. Yahya dan Ms. Hudi. Ada satu lagu favorit saya di album ini, yaitu Cianjur. Lagu yang dinyanyikan oleh Sutarsih ini bercerita tentang keelokan Cianjur sebagai sebuah wilayah dengan alam yang pemandangan indah, keramah-tamahan penduduknya, dan juga kesuburan tanahnya. Sutarsih bernanyi dengan nada ceria dan centil.

OK GANESA TRENGGALEK



OK GANESA TRENGGALEK
Ok Ganesa merupakan grup dan tokoh keroncong senior di kota Trenggalek.
Dan salah satu Tokoh Keroncong Ok Ganesa yaitu bapak SUMIRAN, beliau musisi Contra Bass di grup tersebut. Menurut sumber yang terpercaya yaitu pakdhe Jumali mengatakan tentang pak Sumiran, "Ok Ganesa itu beliau pegang bass kontra saya masih bayi,  keroncong hanya itu di Trenggalek" begitu tutur pakdhe Jumali.  Jadi Ok Ganesa merupakan satu satunya grup keroncong di Trenggalek kala itu.  Tampak dalam foto bapak Sumiran yang mengenakan kaos putih.



MARKASAN MAESTRO KERONCONG SURABAYA



MARKASAN dilahirkan di kota Surabaya pada tahun 1918 dan tinggal di kota Surabaya. Dalam pergaulan sehari hari beliau tergolong orang pendiam dan rendah hati. Tetapi jiwa seninya sangat kental dan penuh dinamika, hal ini dapat kita lihat dari hasil karyanya. Isi hatinya di curahkan dalam bentuk lagu, nada, kata kata dan irama yang selalu di sesuikan dengan keadaan.

Sejak muda bakatnya memang sudah terlihat, yang menjadi kegemaranya terutama lagu lagu keroncong. Pengaruh daerah kelahiranya sangat mendalam dalam lubuk hatinya. Maka tidaklah heran kalau Markasan suka memainkan lagu lagu keroncong dan berbelok arah ke jurusan langgam jawa Khusus Jawa Timur.

Pada tahun 1948 Markasan bersama kawan2nya membentuk grup orkes keroncong dengan nama Orkes Keroncong Aneka Warna dan beliau menjadi leadernya. Selain itu beliau juga memainkan Cuk, Cello dan Gitar Hawaian.

Ok Aneka Warna ikut mengisi acara siaran radio di Surabaya dan popularitasnya semakin tambah. Selain itu juga sering menerima undangan sampai keluar kota. Ok Aneka Warna mempunyai warna corak yang khas dan spesifik. Dalam memajukan Ok Aneka Warna, Markasan dibantu oleh Achmad dan Ramelan. Hasil karya beliau yang sangat populer yaitu Lela Ledung dan Biyen Biyen Katon Apa yang di rekam dalam piringan hitam Seri ARI - 086. Untuk itu Soeparlan dan Kasman menolong membuatkan syairnya.

MUSISI OK CENDRAWASIH



MUSISI OK CENDRAWASIH
Pimpinan S. HOEDY KHUSJUK / S. PADIMIN

Hawaian/ Arr                  S. DENAN
Flute                                S. PARMAN
Biola                                URIP SANTOSO
Guitar                              S. YATMAN
Cello                                SOEBOER
CUK                                 RAMELAN
Cak                                  TAMIN
Bass                                 SIDIQ
Tambourine                    S. DRIYA








GREGORIUS DJADUK FERIANTO



GREGORIUS DJADUK FERIANTO (lahir di Jogjakarta, 19 Juli 1964; umur 53 tahun) atau yang lebih dikenal dengan nama Djaduk Ferianto adalah seorang aktor, sutradara dan musikus berkebangsaan Indonesia. Ia adalah putra bungsu dari Bagong Kussudiardja, koreografer dan pelukis senior Indonesia. Dalam bermusik, dia lebih berkonsentrasi pada penggalian musik-musik tradisi. Djaduk adalah salah satu anggota dari kelompok musik Kua Etnika, musik humor Sinten Remen, dan Teater Gandrik. Selain bermusik, dia juga menyutradarai beberapa pertunjukan teater dan menggarap ilustrasi musik untuk sinetron di televisi. Djaduk pernah mendirikan Kelompok Rheze yang tahun 1978 pernah dinobatkan sebagai Juara I Musik Humor tingkat Nasional, mendirikan Kelompok Musik Kreatif Wathathitha. Pada tahun 1995, bersama dengan kakaknya, Butet Kertaradjasa dan Purwanto, mendirikan Kelompok Kesenian Kua Etnika, yang merupakan penggalian atas musik etnik dengan pendekatan modern. Pada tahun 1997, Djaduk mengolah musik keroncong dengan mendirikan Orkes Sinten Remen.Salah satu hal yang pernah mengganjal Djaduk adalah label lokal dan nasional. Ia mengalami diskriminasi itu sejak 1979. Djaduk baru bisa masuk industri (nasional) tahun 1996, setelah muncul di acara Dua Warna RCTI. Maka ketika Djaduk banyak menerima job tingkat nasional, ia tetap bertahan sebagai orang lokal. Tak akan menetap atau berdomisili Jakarta, meski frekuensi tampil di ibukota sangat tinggi. Djaduk dan kelompoknya tetap berada di Yogya.

Anak Bagong Kussudiardja ini juga tak mau kalah dari kakaknya, Butet Kertaredjasa. Djaduk lahir di Yogyakarta pada 19 juli 1964. Dalam bermusik, ia lebih fokus pada penggalian musik-musik tradisi. Kelompok Rheze yang didirikannya pernah dinobatkan sebagai Juara I Musik Humor Tingkat Nasional. Sebagai aktor, Djaduk pernah terlibat dalam film Petualangan Sherina (2000), Koper (2006), Jagad X Code (2009), dan Cewek Saweran (2011). Sementara sebagai pemusik, sekira 8 album telah dihasilkannya.


TEGUH SLAMET RAHARDJO



KHO TJIEN TIONG, atau dikenal dengan Teguh Slamet Rahardjo lahir di Klaten, Jawa Tengah, Hindia Belanda, 8 Agustus 1926 meninggal di Solo, Jawa Tengah, Indonesia, 22 September 1996 pada umur 70 tahun, adalah seorang seniman Indonesia. Teguh lahir dari keluarga miskin di Bareng, Klaten, Jawa Tengah, dari pasangan Ginem dan Go Bok Kwie. Teguh menyelesaikan pendidikan dasarnya di Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) Purwoningratan Solo. Teguh adalah Ketua  HAMKRI Surakarta generasi ke II setelah Budi Sulistyo suami Waldjinah.

Pada tahun 1942, Teguh mulai membantu ayahnya bekerja di percetakan. Ia bersahabat akrab dengan seorang pembuat gitar bernama Wiro Kingkong. Bersama temannya, Tan Tiang Ping, ia kemudian membentuk grup keroncong Asli di Kampung Perawit. Lalu bergabunglah Lie Tjong Yan, Liem Swie Hok, Liew Houw Wan, The Kit Liong, Kho Djien Tik dan Yo Thio Im. Di sini, Teguh mulai belajar
bermain gitar dan biola. Bersama Supardi, ia menjadi anggota grup musik di Gedung Kakio Sokai, Purwoningratan. Di sinilah ia berpentas musik untuk umum untuk pertama kalinya. Pada tahun 1943, ia terlibat dalam pesta para pembesar tentara Jepang di Gedung Gajah, Solo. Teguh lalu menerima tawaran dari Thio Tek Djien-Miss Ribut untuk bergabung dalam rombongan sandiwara Miss Ribut’s Orion yang setiap malam menggelar pertunjukan di Gedung Shonan, Pasar Pon, Solo. Dua bulan kemudian, grup ini bubar. Pada tahun 1946, ia menerima tawaran R. Supomo untuk bergabung dengan Orkes Keroncong Bunga Mawar. Di grup ini ia bersama Gesang, Hendroyadi, Hardiman dan Ndoro Griwo. Orkes ini sering pentas ke berbagai kota di Jawa Tengah dan lagu-lagunya disiarkan RRI Solo. Dalam pementasan Orkes Keroncong Bunga Mawar di Purwodadi, Teguh berjumpa dengan Raden Ayu Srimulat. Inilah titik awal kebersamaan mereka di rombongan Orkes Bintang Timur pimpinan Djamaluddin Malik serta dalam Orkes Keroncong Bintang Tionghwa yang dipimpin oleh Kho Tjay Yan. Tahun 1949, R.A. Srimulat mendirikan Orkes Keroncong Avond dengan Teguh sebagai pendukung utama. Setahun kemudian, tanggal 8 Agustus 1950, mereka menikah dan mendirikan Gema Malam Srimulat. Teguh sendiri menjadi pimpinan Srimulat sejak 1957 hingga 1985. Teguh menikah lagi dengan Jujuk Juariah, primadona kelompok Srimulat, pada tahun 1970, 2 tahun setelah RA Srimulat meninggal. Teguh meninggal dunia pada tanggal 22 September 1996. Selama memimpin Srimulat, Teguh menggunakan corak kepemimpinan kharismatik. Pengaruhnya bersifat personal dan mendapat pengakuan luas dari pengikutnya. Hal ini terjadi karena sifat Srimulat yang masih kekeluargaan dan bersifat komunal. Pendidikan anggota yang umumnya rendah juga membuat kepemimpinan bersifat paternalistik. Seluruh mekanisme ide lawakan, manajemen keuangan, penyusunan cerita, sampai keputusan untuk mengembangkan usaha diserahkan pada Teguh.


Pola kepemimpinan seperti inilah yang kemudian menghasilkan berbagai persoalan di internal Srimulat. Ini dikarenakan kepemimpinan paternalisitik tidak bisa dijadikan landasan untuk memecahkan masalah secara rasional-modern, tidak adanya pembagian kekuasaan, otoritas terpusat pada satu orang, tidak adanya merit system/sistem reward yang jelas, dan persoalan suksesi dan munculnya hegemoni di pelawak senior. Faktor-faktor inilah yang menjadi sebab utama runtuhnya Srimulat pada tahun 1989. Selama Teguh berkuasa sebagai pemimpin Srimulat, seluruh persoalan di atas diselesaikan di tangannya, terutama soal regenerasi dan kaderisasi, tetapi setelah Srimulat bubar dan tidak adanya sistem pendukung, maka runtuhlah bangunan Srimulat sebagai sebuah organisasi/lembaga. Meski dari segi nilai, Srimulat telah melampau hakikatnya sendiri.